Mengongkosi seorang buronan (baca: penjahat) pulang ke Indonesia memang tanggung jawab penegak hukum. Namun ketika disebut jumlahnya yang mencapai miliaran (Rp 4 miliar lebih), tentu ada rasa keadilan yang terganggu. Bagaimana tidak, biaya itu di mata masyarakat umum (paling nggak di mata saya) adalah jumlah yang sangat buesaarrr.
Kalau dihitung matematis dana sebesar itu bisa untuk menyekolahkan 10.000 anak SD selama setahun (biaya BOS Rp400K/siswa/tahun), atau membangung lebih dari 20 gedung sekolah yang cukup baik (asumsinya Rp200jt/sklh) yang manfaatnya tentu sangat besar dan langsung dirasakan oleh mayarakat Indonesia. Lah ini, Rp4 miliar cuma buat ongkos pulang, dan yang diongkosi adalah penjahat pula. Hmmmm #gelenggelengkepala.
Sudah begitu, beberapa tokoh masyarakat dengan entengnya mengatakan bahwa biaya sebesar itu adalah wajar dan murah, setidaknya begitu yang saya tangkap dari sorotan media masa. Semakin dongkol saya dibuatnya.
Tapi mungkin hipotesis saya di atas dilandasi atas keterbatasan saya terhadap informasi yang menyeluruh. Analisis yang sebelumnya sudah dilandasi rasa benci terhadap Nazarudin (ini juga akibat informasi media) karena mengkorupsi uang rakyat, mengakibatkan segala tindakan si udin itu pasti aja salah. Seakan tidak perduli dengan segala daya upaya yang sudah dilakukan aparat penegak hukum (sy khusnuzhon ni) untuk menyeret koruptor ini ke Indonesia untuk diadili.
Jadi untuk setiap isu yang berkembang (pas saya ngeh) saya coba ikhtiar mencari informasi lebih lengkap sebatas kemampuan saya. Khusus untuk kasus dengan judul di atas, ini kesimpulan saya:
- Proses pemulangan buronan memang tanggung jawab penegak hukum, jadi mereka yang harus bayar transportnya. Penjahat mana mau disuruh pulang sendiri.
- Bukan salah aparatnya kalo buronan itu lari ke Kolombia (sy singkirin dl teori konspirasi ya), jadi proses pulangnya lebih ribet dan mahal. Coba kalo larinya ke puncak aja, pasti cuma butuh bis doang buat jemputnya.
- Pake pesawat charter untuk kasus kayak gini oke lah. Tapi kenapa harus pake Gulftream yang memang untuk VIP dan terkenal mahal? Mungkin mikirnya mau cepet aja kali, harus cari pesawat charter dalam waktu singkat, yang kepikir cuma Gulfstream aja. Biar mahal asal dapet.
- Pak Joko bilang sewa Gulfstream itu US$7000-8000/flighthour. Type yang paling mahal kali. Karena di situsnya, kalo yang reguler “cuma” US$5000-an/flighthour.
- Media kasih info-nya sepotong-sepotong dan cenderung tendensius karena berita harus menjual. ni pendapat saya loh. Jadinya masyarakat antipati duluan.
Itu dia dulu, analisa amatiran. Ga perlu setuju seratus persen sama pendapat saya di atas. Namanya juga nge-blog
